Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sunyi yang Tak Pernah Usai dalam Rasa
dok.pribadi/Khoirul Afandi
Artikel ini didedikasikan untuk mendukung pertumbuhan bisnis mikro di Jawa Timur

Aku menunggumu dalam diam yang lirih. Seperti hujan jatuh memeluk perih. Ada kisah yang tak sempat kutitip pada kata yang tak sanggup menepi.

Diam memaksa bibir berkata, namun suara tak menyembuhkan luka. Rasa ini tetap menyala senyap meski kau pergi tanpa menatap.

Bumi pun tahu arti air mata dari patah yang mendidik jiwa. Alobar berjalan dalam kecewa meninggalkan deru di relung rasa.

Aku ingin dunia tanpa sengsara, tempat hati tak lagi terluka. Namun semua hanya fana belaka, dunia utuh hanyalah cerita.

Melupa tak bisa tanpa mati rasa dan jatuh hati adalah dusta. Tapi semesta dengan caranya menata ulang hati yang tersisa.

Kini kucoba belajar merelakan, menyulam cinta tanpa paksaan. Rasa yang dulu penuh derita kini enggan kembali menyakiti siapa.

1. Menunggu dalam Keheningan

Sunyi ini menjadi saksi betapa dalamnya perasaan yang terpendam. Seperti hujan yang jatuh, menyiram luka tanpa suara. Kesempatan untuk berbicara hilang dalam sepi, meninggalkan rasa yang sulit diungkap kata.

2. Suara yang Tak Menyembuhkan Luka

Meskipun bibir mencoba mengucapkan kata, suara yang dihasilkan tetap belum mampu menghapus sakit. Kesunyian justru membuat luka terasa lebih mendalam, meninggalkan bayang yang tak kunjung hilang.

3. Air Mata sebagai Pengantar Jiwa

Air mata menjadi bahasa bumi yang mengetahui betapa beratnya patah hati. Seperti Alobar yang berjalan dengan kecewa, emosi tertinggal dalam setiap relung rasa. Perjalanan batin ini mengajarkan arti ketegaran dalam kesedihan.

4. Harapan di Dunia yang Sementara

Mimpi akan dunia tanpa rasa sakit menjadi angan yang tak pernah lepas. Namun kenyataan berkata lain, bahwa hidup adalah perjalanan fana. Kesempurnaan hanyalah cerita indah yang menjadi harapan di balik luka.

5. Belajar Merelakan dan Menyulam Cinta

Melepaskan bukan berarti melupakan, tapi menerima tanpa paksaan. Cinta yang dulu menyakitkan kini diolah menjadi pengalaman baru. Sebuah proses penyembuhan yang mengizinkan hati untuk tetap terbuka tanpa takut terluka kembali.

Sunyi yang mengiringi perjalanan rasa ini mengajarkan kita pentingnya menerima dan melangkah. Setiap luka punya cerita dan setiap cerita memberi makna baru dalam hidup. Nikmati prosesnya dengan hati yang lapang dan penuh harapan.

Editorial Team