Aku menunggumu dalam diam yang lirih. Seperti hujan jatuh memeluk perih. Ada kisah yang tak sempat kutitip pada kata yang tak sanggup menepi.
Diam memaksa bibir berkata, namun suara tak menyembuhkan luka. Rasa ini tetap menyala senyap meski kau pergi tanpa menatap.
Bumi pun tahu arti air mata dari patah yang mendidik jiwa. Alobar berjalan dalam kecewa meninggalkan deru di relung rasa.
Aku ingin dunia tanpa sengsara, tempat hati tak lagi terluka. Namun semua hanya fana belaka, dunia utuh hanyalah cerita.
Melupa tak bisa tanpa mati rasa dan jatuh hati adalah dusta. Tapi semesta dengan caranya menata ulang hati yang tersisa.
Kini kucoba belajar merelakan, menyulam cinta tanpa paksaan. Rasa yang dulu penuh derita kini enggan kembali menyakiti siapa.
