Surabaya, IDN Times - Di ujung tanduk kekuasaan Soeharto, Mei 1998, Bumi Pertiwi dirundung duka. Masyarakat yang muak akan tirani berujung kericuhan publik yang menyasar etnis Tionghoa. Mereka dianggap ekslusif. Menindas pribumi. Hingga acuh terhadap kesenjangan ekonomi demi memperkaya diri. Inilah warisan kolonial yang berimbas kepada etnis Tionghoa di seluruh Indonesia.
“Dan memang begitu pula Soeharto merawat etnis Tionghoa. Yang kaya dijaga, yang miskin ditekan,” ungkap Bingky Irawan, pemuka Konghucu Indonesia. Bingky bisa dibilang satu-satunya etnis Tionghoa yang berani tampil di hadapan publik usai kerusuhan menimpa rekan sejawatnya.
Ketika Surabaya dilaporkan tidak terimbas kegaduhan 1998, Bingky membongkar pernyataan tersebut. Ia mengungkapkan, banyak etnisnya yang menjadi korban pemerkosaan. Sontak namanya menjadi buah bibir di kalangan aparatur keamanan yang kabarnya hendak naik pangkat.
Kejadian itu bermula saat Bingky mendapat laporan dari seorang yang mengaku sebagai korban. “Kami akhirnya janjian di suatu tempat. Dia (korban) menangis. Dia cerita kalau suaminya dipukul terus dia diperkosa di depan suaminya, rumahnya dijarah. Iki temenan, gitu dalam batinku,” ujar pria 67 tahun tersebut.
Kemudian, Bingky menggelar jumpa pers pada awal Juli 1998. “Waktu itu saya gak bilang detail. Saya cuma bilang, bahwa di sana (daerah Surabaya Utara) ada kejadian pemerkosaan. Wah ribut setelah itu. Saya gak ngerti kalau waktu itu Pangdam dan Kapoldanya mau diorbitkan ke pusat. Akhirnya saya diincar mereka”.
Bingky disibukkan oleh berbagai agenda pemeriksaan. Ia bertolak dari Kodam Brawijaya hingga Polwiltabes Surabaya untuk menjalani interogasi. Sepanjang itu, Bingky nyaris ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan penyebaran berita bohong.
Bingky menceritakan, “Kira-kira enam jam saya diinterogasi di Kodam. Mereka akhirnya gak bisa jawab pertanyaan saya. Terus saya dibawa ke Polwiltabes. Di sana diinterogasi lagi sama enam polisi. Saya dibuat down sama mereka, jadi begitu dilempar pertanyaan, belum sempat dijawab, dikasih lagi pertanyaan begitu terus.”
Di sanalah puncak kesabaran Bingky menipis. Ia berdiri untuk menggebrak meja. Ia geram dengan interogasi yang tak terarah. Menurutnya, hari itu, ia bak cacing yang mulet.
“Saya sudah kayak orang ‘kesurupan’ itu. Saya bilang ‘kalian pikir aku gak tau keburukan kalian? Berapa bojo kalian? Aku gak takut mati, hidup matiku di tangan gusti Allah’. Eh langsung mereka bilang ‘sudah pak, cukup interogasinya.”
