Bulan ini, tepat setahun lalu, lima bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo. Ada 28 orang meregang nyawa, puluhan terluka. Yang lebih miris, semua pelaku mengajak serta keluarga dalam aksinya. Melalui pengakuan saksi dan korban, kami mencoba menceritakannya kembali. Kesaksian mereka menunjukkan bahwa, apapun dalihnya, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tak selayaknya mendapat tempat di manapun.
Surabaya, IDN Times - Alunan doa-doa terdengar mulai bersahutan dari lapangan Markas Polda Jawa Timur Minggu, 13 Mei 2018 pagi. Suaranya beradu dengan riuh kendaraan yang lalu lalang di Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Pagi itu, Mapolda memang sedang menggelar Istighosah akbar demi kelancaran Pilkada. Tak ada yang aneh, alam terlihat merestui acara itu. Awan bersahabat, tak ada mendung yang menggantung.
Sementara, kesibukan sudah terasa sejak pagi. Anggota kepolisian hilir mudik menertibkan kendaraan yang sedang kebingungan karena jalan protokol itu ditutup separuh. Memang, sisi Barat Jalan Ahmad Yani, Surabaya, sejak pagi ditutup dari arah Mal City of Tommorow (CITO) hingga Royal Plaza.
Satu per satu rombongan yang memakai pakaian serba putih turun dari bus dan angkutan. Mereka berjalan berirama, beberapa menirukan lafaz yang terdengar dari luar halaman Mapolda. Polisi pun menginstruksikan rombongan untuk masuk melalui satu pintu, yaitu sisi utara.
