Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Suara Gamers Banyuwangi: Kami Ingin Punya Atlet E-Sport

IDN TImes/Mohamad Ulil Albab
IDN TImes/Mohamad Ulil Albab

Banyuwangi, IDN Times - Selama ini, bermain game dianggap mengganggu aktivitas belajar para pelajar maupun mahasiswa. Bahkan, para pemainnya dianggap terlalu suka menyendiri karena asik dengan gawainya saat bermain game. Di Kabupaten Banyuwangi, para pemuda berupaya menunjukkan bahwa hobi memainkan game juga bisa berkontribusi untuk kebanggaan Indonesia.

1. Bermain game mengandung unsur edukasi 4 C

IDN Times/Mohamad Ulil Albab
IDN Times/Mohamad Ulil Albab

 

Stigma buruk terhadap dunia game, coba dipatahkan para gamers (pencinta game) saat mengikuti ajang Banyuwangi E-Sport And Anime Festival (Besaf) yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di Gedung Wanita, Rabu (18/9).

Vice Executive Officer Besaf, Taufik Qurrahman menjelaskan, Taufik menjelaskan, game yang sering mendapat stigma mengganggu para pelajar dalam menempuh pendidikan, menurutnya tidak sepenuhnya benar. Sebab, permainan game juga memiliki nilai edukasi bila dilakukan dengan penuh disiplin seperti para atlet game.

"Kalau permainan tim e-sport, ada sisi pendidikan, kami menyebutnya 4 C. Ada collaboration, communication, critical thinking, dan creativity," jelasnya.

Sisi kolaborasi dan komunikasi, dia contohkan seperti saat bermain dota para pemain game perlu menjalin komunikasi dan kekompakan untuk membangun strategi.

"Perlu komunikasi untuk membangun strategi. Kalau kreativitas dari skills bermain menghadapi lawan, bagaimana memanfaatkan skill dari hero. Kemudian membangun strategi. kapan harus maju, dan menjaga base," ujarnya.

2. Pemain game perlu adanya wadah dan edukasi

IDN TImes/Mohamad Ulil Albab
IDN TImes/Mohamad Ulil Albab

 

Stigma bermain game yang dinilai bisa mengganggu aktivitas belajar, menurutnya perlu adanya edukasi agar tidak sekedar bermain. Dia pun tidak menampik adanya para pemuda yang sudah kecanduan bermain game, hal tersebut bisa dicegah dengan dukungan dan wadah kreatif seperti e-sport.

"Tidak mudah meyakinkan norang tua memandang negatif, padahal eksistensi nya tidak bisa ditolak, negatif bila dilakukan internet gaming disorder, cuma main aja, ngisi eaktu doang, beli beli fasilitas game. Sementara E-sport, punya kedisiplinan, setelah target yang jelas ke depan, dan produktif, punya jadwal tanding yang pasti," katanya.

Melalui komunitasnya, Taufik juga memberi edukasi tata cara bermain game yang bermanfaat, mengajarkan kedisiplinan berlatih dan batas usia pemain game.

"Kami banyak melakukan sosialisasi ke sekolah, terkait 4.0, karena e sport bagian dari itu, bukan menolak, tapi memanajemen bisa berkontribusi nuntuk generasi. Kalu dari segi aturan baru boleh bermain game di usia 14 untuk kesiapan mental. Sementara normal latihan 8 jam per hari, ini yang sudah profesional," katanya.

3. Membentuk komunitas game untuk kontribusi atlet E-sport

IDN Times/Mohamad Ulil Albab
IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Lebih lanjut, para pemenang dalam ajang e-sport tersebut, bakal membentuk wadah bernama Nemesis Gaming, sebuah klub game di Banyuwangi yang bisa dilatih menjadi atlet.

"Itu club game di Banyuwangi. Yang jadi juara bisa direkrut nemesis game. Agar Banyuwagi punya atlet yang bisa mewakili di ajang olahraga nasional maupun internasional," jelasnya.

Taufik sendiri mengaku senang dengan adanya event e-sport yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Menurutnya dukungan ini tidak hanya sebatas seremonial event, namun juga ada komitmen untuk memberikan wadah kreatif buat para pemuda.

"Ini kabupaten pertama yang mendukung e sport di Indonesia. Di sini didukung kualifikasi, kemudian dijadikan atlet dan bisa dipertandingkan di event event nasional.Yang lain, setahuku setelah event selesai, tidak ada ekosistem nya," ujarnya.

4. Bisa membeli gawai dari bermain game

IDN Times/Mohamad Ulil Albab
IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Sementara itu, Mohammad Jafar (17), salah satu peserta game dari SMKN 1 Glagah Banyuwangi, mengaku bisa membeli gawai dari hasil bermain game, melalui juara-juara ajang kompetisi yang pernah dia menangkan sebelumnya.

"Saya sudah 12 an lebih juara game, orang tua awalnya tidak dukung, tapi sekarang sudah dukung, karena terus sering juara. Kalau main mobil lagend, sudah 4 tahun. Memang suka game, karena juga bisa dapat uang dari situ, ujarnya.

Meski sudah suka bermain game sejak kelas 1 SD, Jafar mengaku tetap menyempatkan waktu belajar antara pukul 18.00 WIB sampai 20.00 WIB. Dia sendiri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi yang bisa mendukung hobinya bermain game.

"Saya biasa mulai main game saat pulang sekolah sampai setengah 5, kemudian belajar, dan lanjut jam 8-10. Saya ingin kuliah, melanjutkan yang ada jurusan bisa mendukung hobi saya," ujarnya.

Dalam kompetisi e-sport ini, Jafar memiliki strategi khusus agar bisa meraih juara.

"Saya nggak pernah meremehin lawan, dan nggak mikir lawannya berat juga," ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Mohamad Ulil Albab
EditorMohamad Ulil Albab
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Naik Rp13 Ribu, Cek Daftar Harga Emas 5 Agustus 2025

24 Nov 2025, 15:43 WIBNews

artikelOnhold-ag9w

05 Nov 2025, 10:11 WIBNews